"Pemerintah tidak ingin kami mengumpulkan massa lewat internet," kata seorang aktivis.
Pemerintah Aljazair memblokir akses ke
internet untuk membendung gelombang demonstrasi anti Presiden Abdelaziz
Bouteflika. Namun, aksi demonstrasi Sabtu kemarin tetap berlangsung dan
sedikitnya 500 orang ditahan.
Para aktivis mengaku mulai sulit mengakses internet. Seperti para aktivis di Tunisia dan Mesir, mereka mengandalkan laman-laman sosial media di internet untuk menggerakkan massa.
"Pemerintah tidak ingin kami mengumpulkan massa lewat internet," kata Rachid Salem, aktivis dari Koordinasi untuk Perubahan Demokratik di Aljazair, seperti yang dikutip harian The Telegraph. Namun, pemblokiran internet tidak membuat demonstrasi jadi batal terlaksana.
Sekitar seribu orang anti Presiden Abdelaziz Bouteflika berdemonstrasi di ibukota Aljazair, Aljir, Sabtu 12 Februari 2011. Menurut harian The New York Times, para demonstran di Lapangan 1 Mei kompak berteriak, "Bouteflika mundur!"
Mereka tak menghiraukan larangan pemerintah untuk berunjuk rasa. Maka, dalam aksi kemarin sempat terjadi bentrokan antara polisi dan pemrotes di Aljir. walau tidak dilaporkan adanya korban jiwa, sedikitnya 500 orang ditangkap polisi. Penangkapan para demonstran juga terjadi di Kota Annaba, Constantine, dan Oran.
Terinspirasi oleh gelombang demonstrasi di Mesir, para demonstran juga berteriak, "Kemarin Mesir, Hari Ini Aljazair." Dalam beberapa hari terakhir, Aljazair dilanda aksi protes anti pemerintah, namun tidak sedahsyat yang terjadi di Tunisia dan Mesir. Namun, dalam sejumlah aksi protes di Aljazair Januari lalu, sedikitnya lima orang tewas.
Berkuasa sejak 1999, Bouteflika dituding kalangan oposisi selalu memanipulasi hasil pemilu agar terus berkuasa. Menurut The Telegraph, Aljazair dikenal sebagai produsen gas alam terbesar nomor delapan di dunia dan juga memiliki minyak mentah yang berlimpah.
Namun, banyak kalangan muda di sana menderita pengangguran. Kemiskinan masih terjadi di Aljazair, begitu pula dengan penyakit korupsi.
Para aktivis mengaku mulai sulit mengakses internet. Seperti para aktivis di Tunisia dan Mesir, mereka mengandalkan laman-laman sosial media di internet untuk menggerakkan massa.
"Pemerintah tidak ingin kami mengumpulkan massa lewat internet," kata Rachid Salem, aktivis dari Koordinasi untuk Perubahan Demokratik di Aljazair, seperti yang dikutip harian The Telegraph. Namun, pemblokiran internet tidak membuat demonstrasi jadi batal terlaksana.
Sekitar seribu orang anti Presiden Abdelaziz Bouteflika berdemonstrasi di ibukota Aljazair, Aljir, Sabtu 12 Februari 2011. Menurut harian The New York Times, para demonstran di Lapangan 1 Mei kompak berteriak, "Bouteflika mundur!"
Mereka tak menghiraukan larangan pemerintah untuk berunjuk rasa. Maka, dalam aksi kemarin sempat terjadi bentrokan antara polisi dan pemrotes di Aljir. walau tidak dilaporkan adanya korban jiwa, sedikitnya 500 orang ditangkap polisi. Penangkapan para demonstran juga terjadi di Kota Annaba, Constantine, dan Oran.
Terinspirasi oleh gelombang demonstrasi di Mesir, para demonstran juga berteriak, "Kemarin Mesir, Hari Ini Aljazair." Dalam beberapa hari terakhir, Aljazair dilanda aksi protes anti pemerintah, namun tidak sedahsyat yang terjadi di Tunisia dan Mesir. Namun, dalam sejumlah aksi protes di Aljazair Januari lalu, sedikitnya lima orang tewas.
Berkuasa sejak 1999, Bouteflika dituding kalangan oposisi selalu memanipulasi hasil pemilu agar terus berkuasa. Menurut The Telegraph, Aljazair dikenal sebagai produsen gas alam terbesar nomor delapan di dunia dan juga memiliki minyak mentah yang berlimpah.
Namun, banyak kalangan muda di sana menderita pengangguran. Kemiskinan masih terjadi di Aljazair, begitu pula dengan penyakit korupsi.
Menurut IMF, pengangguran di Aljazair dan Tunisia mencapai hampir 30 persen
Kerusuhan melanda Aljazair dan Tunisia
sejak pekan lalu dan telah menimbulkan korban jiwa. Kericuhan di dua
negara Afrika Utara ini dipicu oleh ketidakpuasan kaum muda atas
tingginya harga bahan pokok dan tingkat pengangguran.
Menurut laman berita Magharebia, Minggu 9 Januari 2011 waktu setempat, kerusuhan itu menewaskan sedikitnya 14 orang di Tunisia dan tiga lainnya di Aljazair. Bagi rakyat Aljazair, ini merupakan demonstrasi terbesar dalam 20 tahun terakhir.
Demonstrasi di Aljazair berlangsung sejak Selasa, 4 Januari 2011, di pinggiran Ibukota Aljir. Demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan pada Rabu di Oran. Rabu malam, kerusuhan meluas ke distrik Bab El Oued di pusat kota Aljier. Dalam sekejap, kerusuhan menyebar ke 24 kota di Aljazair.
“Saya dapat memastikan tiga pemuda tewas di M’sila, Tipasa dan Boumerdes,” ujar Menteri Dalam Negeri Aljazair, Daho Ould Kabila, Minggu 9 Januari 2011.
Kabila juga mengatakan bahwa lebih dari 1.000 orang ditahan, sementara itu 736 petugas keamanan dan 53 pengunjuk rasa terluka dalam bentrok sepanjang pekan lalu. Meningkatnya harga bahan makanan pokok dan banyaknya angka pemuda menganggur menjadi penyebab utama kerusuhan pekan lalu.
Pemerintah Aljazair Sabtu pekan lalu akhirnya menurunkan pajak dan bea sampai 41 persen untuk produk gula dan makanan pokok lainnya. Penurunan harga ini hanya berlaku hingga akhir Agustus mendatang. Namun, langkah pemerintah ini tidak cukup untuk meredam amarah para pemuda yang mengaku telah lama dihiraukan.
“Kami muak dihiraukan setiap saat. Kami muak diperlakukan seperti marmut. Kami katakan ini kepada pemerintah: Kalian tidak berbuat apa-apa kepada kami, kami tidak mengakui kalian lagi,” ujar salah satu pengunjuk rasa, Hamid, seorang penganggura dari Bab El Oued.
Sementara itu, kerusuhan serupa terjadi dalam waktu yang sama di Tunisia, menewaskan 14 orang. Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri Tunisia, kematian terjadi pada bentrokan Sabtu, 8 Januari 2011, di kota Kasserine, Thala dan Regueb, dekat perbatasan dengan Aljazair.
Para korban tewas kebanyakan adalah para pengunjuk rasa yang membawa bom molotov, batu dan tongkat, serta menyerang properti publik.
Kelompok sipil dan oposisi mengatakan bahwa demonstrasi yang berujung bentrok di Tunisia penyebabnya sama seperti di Aljazair, yaitu tingginya angka pengangguran terpelajar, dan naiknya harga bahan makanan pokok.
Kemarahan para pemuda penganggur ini kemudian tersulut ketika Mohamed Bousazizi, 26, pemilik sebuah toko buah, membakar dirinya sendiri bulan lalu. Setelah mendapatkan perawatan, dia akhirnya tewas minggu lalu.
Bousazizi nekat bunuh diri setelah frustasi dagangan buahnya disita oleh polisi karena dinilai tidak memiliki izin. Sarjana muda ini terpaksa berjualan buah karena tidak mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang lama.
Aljazair dan Tunisia adalah dua negara yang memiliki angka pengangguran terpelajar yang tinggi. Namun, pemerintah seperti tutup mata dengan pendapat dari para oposisi dan protes masyarakat. Hal ini tidak jarang menyulut bentrokan di kedua negara ini.
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), angka pengangguran di kedua negara ini masing-masing mencapai hampir 30 persen dari total populasi. Kebanyakan adalah pemuda di bawah umur 25 tahun. Padahal, para pemuda di kedua negara ini berjumlah sangat besar, yaitu hampir 70 persen dari keseluruhan populasi. (sj)
• VIVAnews
Menurut laman berita Magharebia, Minggu 9 Januari 2011 waktu setempat, kerusuhan itu menewaskan sedikitnya 14 orang di Tunisia dan tiga lainnya di Aljazair. Bagi rakyat Aljazair, ini merupakan demonstrasi terbesar dalam 20 tahun terakhir.
Demonstrasi di Aljazair berlangsung sejak Selasa, 4 Januari 2011, di pinggiran Ibukota Aljir. Demonstrasi berkembang menjadi kerusuhan pada Rabu di Oran. Rabu malam, kerusuhan meluas ke distrik Bab El Oued di pusat kota Aljier. Dalam sekejap, kerusuhan menyebar ke 24 kota di Aljazair.
“Saya dapat memastikan tiga pemuda tewas di M’sila, Tipasa dan Boumerdes,” ujar Menteri Dalam Negeri Aljazair, Daho Ould Kabila, Minggu 9 Januari 2011.
Kabila juga mengatakan bahwa lebih dari 1.000 orang ditahan, sementara itu 736 petugas keamanan dan 53 pengunjuk rasa terluka dalam bentrok sepanjang pekan lalu. Meningkatnya harga bahan makanan pokok dan banyaknya angka pemuda menganggur menjadi penyebab utama kerusuhan pekan lalu.
Pemerintah Aljazair Sabtu pekan lalu akhirnya menurunkan pajak dan bea sampai 41 persen untuk produk gula dan makanan pokok lainnya. Penurunan harga ini hanya berlaku hingga akhir Agustus mendatang. Namun, langkah pemerintah ini tidak cukup untuk meredam amarah para pemuda yang mengaku telah lama dihiraukan.
“Kami muak dihiraukan setiap saat. Kami muak diperlakukan seperti marmut. Kami katakan ini kepada pemerintah: Kalian tidak berbuat apa-apa kepada kami, kami tidak mengakui kalian lagi,” ujar salah satu pengunjuk rasa, Hamid, seorang penganggura dari Bab El Oued.
Sementara itu, kerusuhan serupa terjadi dalam waktu yang sama di Tunisia, menewaskan 14 orang. Menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri Tunisia, kematian terjadi pada bentrokan Sabtu, 8 Januari 2011, di kota Kasserine, Thala dan Regueb, dekat perbatasan dengan Aljazair.
Para korban tewas kebanyakan adalah para pengunjuk rasa yang membawa bom molotov, batu dan tongkat, serta menyerang properti publik.
Kelompok sipil dan oposisi mengatakan bahwa demonstrasi yang berujung bentrok di Tunisia penyebabnya sama seperti di Aljazair, yaitu tingginya angka pengangguran terpelajar, dan naiknya harga bahan makanan pokok.
Kemarahan para pemuda penganggur ini kemudian tersulut ketika Mohamed Bousazizi, 26, pemilik sebuah toko buah, membakar dirinya sendiri bulan lalu. Setelah mendapatkan perawatan, dia akhirnya tewas minggu lalu.
Bousazizi nekat bunuh diri setelah frustasi dagangan buahnya disita oleh polisi karena dinilai tidak memiliki izin. Sarjana muda ini terpaksa berjualan buah karena tidak mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang lama.
Aljazair dan Tunisia adalah dua negara yang memiliki angka pengangguran terpelajar yang tinggi. Namun, pemerintah seperti tutup mata dengan pendapat dari para oposisi dan protes masyarakat. Hal ini tidak jarang menyulut bentrokan di kedua negara ini.
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), angka pengangguran di kedua negara ini masing-masing mencapai hampir 30 persen dari total populasi. Kebanyakan adalah pemuda di bawah umur 25 tahun. Padahal, para pemuda di kedua negara ini berjumlah sangat besar, yaitu hampir 70 persen dari keseluruhan populasi. (sj)






