Miris ketika mendengar atau membaca
berita mengenai jumlah ODHA di Indonesia yang terus meningkat. Lebih
miris lagi jika mendengar diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS ini
masih saja terjadi, terutama dalam hal akses kesehatan. Seperti berita
yang pernah saya baca di sebuah situs internet, dikatakan bahwa
diskriminasi dalam memperoleh akses kesehatan saat ini justru lebih
sering dilakukan oleh para tenaga kesehatan, bahkan beberapa tenaga
kesehatan secara terang-terangan menolak memberikan pelayanan kesehatan
ketika mengetahui pasien yang ditangani positif HIV/AIDS.
Tak pernah ada orang yang mau menderita
HIV/AIDS, juga tak pernah ada orang yang mau terlahir dalam keadaan
sudah membawa virus HIV dalam tubuhnya. Semua itu kehendak Tuhan,
sebagai manusia kita hanya menjalankan apa yang sudah menjadi ketetapan
Tuhan. Apa salahnya dengan ODHA? Mereka toh tak menginginkan untuk
menjadi bagian dari para penderita HIV/AIDS tersebut.
Sebagai orang yang normal dan sehat,
bukankah seharusnya kita bersyukur dan tidak sepantasnya memperlakukan
mereka (ODHA) dengan tidak baik. Apalagi bagi tenaga kesehatan yang
jelas-jelas sudah mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi dan berjanji
untuk melakukan pelayanan kesehatan dengan professional, tak terkecuali
bagi penderita HIV/AIDS. Mereka juga punya hak untuk memperoleh
perawatan dan pelayanan yang layak.
Menurut data UNAIDS (Oktober 2011) ada
270.000 ODHA yang terdata positif di Indonesia. Namun data ini masih
dapat diragukan karena menurut informasi dari beberapa lembaga yang care
terhadap penanggulangan bahaya HIV/AIDS jumlah ODHA di Indonesia sudah
melebihi angka 800 ribu. Pada intinya, jumlah ODHA di Indonesia
meningkat dari waktu ke waktu. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia,
tentunya kita tak bisa menutup mata dari keadaan tersebut. Diperlukan
partisipasi aktif dari berbagai pihak dalam rangka menekan jumlah
penderita agar tidak semakin banyak. Apa yang bisa kita lakukan?
Kebetulan saya seorang mahasiswa di
sebuah fakultas kesehatan. Setiap memperingati hari AIDS sedunia
biasanya organisasi mahasiswa akan melakukan penggalangan dana bagi
penderita HIV/AIDS, sekaligus memberikan pita merah gratis sebagai wujud
kepedulian kita terhadap saudara-saudara atau teman-teman kita yang
menderita HIV/AIDS. Bentuk partisipasi bisa kita lakukan dengan cara
ikut serta dalam kegiatan tersebut, ikut menyumbang dana, atau
setidaknya memperlakukan orang-orang yang menderita HIV/AIDS dengan
sewajarnya agar mereka tidak tertekan karena merasa disingkirkan.
Selain itu, sebagai pribadi yang sadar akan bahaya HIV/AIDS sudah semestinya kita membiasakan hidup sehat, jauhi narkoba dan free sex,
serta lakukan hal-hal positif. Kebutuhan akan pemahaman agama juga
mutlak diperlukan karena ini menjadi benteng utama agar seseorang tidak
terjatuh pada hal-hal yang negatif. Mulai dari diri sendiri, orang-orang
terdekat kita, dan pada akhirnya masyarakat sekitar kita. Jika setiap
orang paham akan bahayanya virus HIV ini, niscaya penularan virus pada
orang sehat bisa ditekan.
Yang paling penting lagi, ODHA juga
manusia yang butuh dihargai dan hidup layaknya seperti kita. Maka, tak
ada alasan bagi kita untuk mendiskriminasikan mereka. Tuhan menciptakan
kita agar bersaudara satu sama lain. Jadi, mari perlakukan mereka
sebagai saudara kita, saling menghargai, saling menyayangi, dan saling
tolong menolong. Bukankah manusia yang paling baik adalah mereka yang
bermanfaat bagi manusia lainnya?
Buat teman-teman yang (mungkin) diberikan
Tuhan sebuah cobaan menjadi penderita ODHA: tetaplah bersemangat, gapai
mimpi dan cita-citamu, Tuhan mencintai orang-orang yang sungguh-sungguh
berusaha dan tak pernah putus asa. (Sumber)





