Senin, 14 November 2011

Aku dan Kamu, Kita Semua Bersaudara

mereka juga saudara kita
Miris ketika mendengar atau membaca berita mengenai jumlah ODHA di Indonesia yang terus meningkat. Lebih miris lagi jika mendengar diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS ini masih saja terjadi, terutama dalam hal akses kesehatan. Seperti berita yang pernah saya baca di sebuah situs internet, dikatakan bahwa diskriminasi dalam memperoleh akses kesehatan saat ini justru lebih sering dilakukan oleh para tenaga kesehatan, bahkan beberapa tenaga kesehatan secara terang-terangan menolak memberikan pelayanan kesehatan ketika mengetahui pasien yang ditangani positif HIV/AIDS.
Tak pernah ada orang yang mau menderita HIV/AIDS, juga tak pernah ada orang yang mau terlahir dalam keadaan sudah membawa virus HIV dalam tubuhnya. Semua itu kehendak Tuhan, sebagai manusia kita hanya menjalankan apa yang sudah menjadi ketetapan Tuhan. Apa salahnya dengan ODHA? Mereka toh tak menginginkan untuk menjadi bagian dari para penderita HIV/AIDS tersebut.
Sebagai orang yang normal dan sehat, bukankah seharusnya kita bersyukur dan tidak sepantasnya memperlakukan mereka (ODHA) dengan tidak baik. Apalagi bagi tenaga kesehatan yang jelas-jelas sudah mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi dan berjanji untuk melakukan pelayanan kesehatan dengan professional, tak terkecuali bagi penderita HIV/AIDS. Mereka juga punya hak untuk memperoleh perawatan dan pelayanan yang layak.
Menurut data UNAIDS (Oktober 2011) ada 270.000 ODHA yang terdata positif di Indonesia. Namun data ini masih dapat diragukan karena menurut informasi dari beberapa lembaga yang care terhadap penanggulangan bahaya HIV/AIDS jumlah ODHA di Indonesia sudah melebihi angka 800 ribu. Pada intinya, jumlah ODHA di Indonesia meningkat dari waktu ke waktu. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, tentunya kita tak bisa menutup mata dari keadaan tersebut. Diperlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak dalam rangka menekan jumlah penderita agar tidak semakin banyak. Apa yang bisa kita lakukan?
Kebetulan saya seorang mahasiswa di sebuah fakultas kesehatan. Setiap memperingati hari AIDS sedunia biasanya organisasi mahasiswa akan melakukan penggalangan dana bagi penderita HIV/AIDS, sekaligus memberikan pita merah gratis sebagai wujud kepedulian kita terhadap saudara-saudara atau teman-teman kita yang menderita HIV/AIDS. Bentuk partisipasi bisa kita lakukan dengan cara ikut serta dalam kegiatan tersebut, ikut menyumbang dana, atau setidaknya memperlakukan orang-orang yang menderita HIV/AIDS dengan sewajarnya agar mereka tidak tertekan karena merasa disingkirkan.
Selain itu, sebagai pribadi yang sadar akan bahaya HIV/AIDS sudah semestinya kita membiasakan hidup sehat, jauhi narkoba dan free sex, serta lakukan hal-hal positif. Kebutuhan akan pemahaman agama juga mutlak diperlukan karena ini menjadi benteng utama agar seseorang tidak terjatuh pada hal-hal yang negatif. Mulai dari diri sendiri, orang-orang terdekat kita, dan pada akhirnya masyarakat sekitar kita. Jika setiap orang paham akan bahayanya virus HIV ini, niscaya penularan virus pada orang sehat bisa ditekan.
Yang paling penting lagi, ODHA juga manusia yang butuh dihargai dan hidup layaknya seperti kita. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk mendiskriminasikan mereka. Tuhan menciptakan kita agar bersaudara satu sama lain. Jadi, mari perlakukan mereka sebagai saudara kita, saling menghargai, saling menyayangi, dan saling tolong menolong. Bukankah manusia yang paling baik adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia lainnya?
Buat teman-teman yang (mungkin) diberikan Tuhan sebuah cobaan menjadi penderita ODHA: tetaplah bersemangat, gapai mimpi dan cita-citamu, Tuhan mencintai orang-orang yang sungguh-sungguh berusaha dan tak pernah putus asa. (Sumber)

Photobucket
Free Counter
Photobucket