Senin, 14 November 2011

Sisa Cerita Semalam di Kedai Kopi


 
Ia menghampiriku kemarin malam di sebuah kedai kopi, bercerita panjang lebar tentang seseorang yang telah menjatuhkan mentalnya. Dengan nada mantap, Ia menganggap itu sebuah kritakan terpedas yang pernah dia terima seumur hidupnya—mungkin lebih tepatnya seperti sebuah penghinaan baginya.
Sebenarnya kritikannya sederhana, namun ia bilang sangat melukai perasaan-nya.
“ Tulisanmu ‘kasar’ sekali, seperti seseorang yang tidak berpendidikan dan berbudaya saja!”ujar seseorang yang mengkritiknya.
Aku ingin mencari tahu akar masalahnya. Sebenarnya apa yang dia tulis, hingga keluar ucapan seperti itu.
“saya hanya menuliskan apa yang ada di pikiran saya, menurut saya bahasa itu sudah cukup santun. Saya memang tidak berpendidikan, jadi tidak tau etika menulis. Dan yang saya tahu isi tulisan itu jujur dari hati saya, apa yang selama ini saya alami dan rasakan, bukan sekedar basa-basi.” Keluh temanku itu.
Setelah membaca isi tulisanya, aku hanya mampu bergumam dalam hati.
“Benar apa yang ia tuliskan, ia berusaha jujur atas apa yang dialaminya. Akan tetapi benar juga apa yang dikatakan si pengkritik. Tulisan ini cukup kasar, seperti tidak mencerminkan orang yang berpendidikan.”
Sejenak Aku diam terpaku, ketika ia melemparkan pertanyaan sulit. Sebuah pertanyaan yang aku sendiri bingung untuk menjawabnya.
“memangnya seperti apa sih, orang yang berpendidikan dan berbudaya itu, mas?”
Otak-ku di buatnya berputar-putar bak baling-baling bambu, berusaha keras mecari jawaban untuk pertanyaan yang di utarakannya . Semoga jawabanku tidak melukai lagi perasaannya lagi. Beberapa menit berlalu, akhirnya ku temukan juga jawaban yang aku pikir tepat.
“ Orang yang berpendidikan itu, seperti orang yang telah mengkritik-mu itu. Buktinya ia tahu jika kamu tidak berpendidikan.” Jawabku dengan nada guyonan.
“lalu, orang yang berbudaya?”
“ orang berbudaya itu, ya, itu. Aku juga binggung, bangsa ini sudah terlalu banyak memiliki budaya. Seperti budaya  korupsi, budaya menjilat, budaya menghujat, budaya merasa paling pintar sendiri, budaya plagiat, budaya mengkerdilkan orang tanpa sadar dan masih banyak lagi.”
Akhirnya kami berdua saling merenung. Entah apa yang saya pikirkan sama atau tidak yang sedang ia pikirkan.
“Lagian pendidikan di negeri ini kan Cuma di peruntukan bagi orang-orang yang punya banyak uang. Mana mungkin orang –orang seperti kita mampu mengecap bangku pendidikan yang lebih tinggi. Sudah tidak usah di gubris, Mendingan kita ngopi lagi aja!” Aku mencoba menghiburnya.
“kang, tambah lagi kopi nya, yah……!” [Sumber]

Photobucket
Free Counter
Photobucket