Semakin
tua umur suatu negara, maka semakin maju negara tersebut. Namun,
kalimat tersebut rasanya belum cocok dengan negara Indonesia ini. Di
umurnya yang ke 103 tahun pasca kebangkitan nasional, serta menjelang
66 tahun kemerdekaan, negeri ini seolah berjalan mundur.
103 tahun lalu, tepatnya hari Minggu, 20 Mei 1908 (kini ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional) Soetomo
dan kawan-kawannya: M. Soeradji, M. Muhammad saleh, M. Soewarno, M.
Goenawan, Soewarno mendirikan sebuah perkumpulan yang mereka namakan
"Boedi Oetomo", yang terdiri dari kata "Boedi" yang berarti baik, dan
"Oetomo" yang berari utama, luhur.
Cita-cita mereka tidak main-main.Kemajuan untuk bangsa dan negara, terutama memajukan pendidikan, pertanian, dan industri. Boedi Oetomo telah memberikan kesaran nasional, menggugah semangat persatuan, adalah suatu kenyataan yang perlu diteladani.
Bagaimana Keadaan Indonesia Setelah 103 Tahun Kebangkitan Nasional??
103
tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi negara ini justru bisa
diibaratkan berjalan mundur, tidak mengikuti perkembangan jaman.
Berbagai problema masyarakat seolah menunjukkan betapa masyarakat belum
memahami arti penting momentum kebangkitan nasional. Masyarakat seolah
semakin tidak berkarakter, semakin terjajah oleh penyakit moral yang
tak kunjung usai.Lebih-lebih generasi muda harapan Indonesia di masa
depan, mereka justru dapat dikatakan merusak bangsanya sendiri dengan
perilaku-perilaku negatif mereka.
Tawuran
seolah sudah jadi pemberitaan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mereka
lah harapan bangsa di masa depan, calon pemimpin di masa depan, tapi
mereka saling serang satu sama lain, mau menangnya sendiri
Terlihat
betapa pendidikan yang sudah digembleng selama 3 tahun seperti tak ada
hasilnya. Siswa-siswa ini merayakan kelulusan mereka dengan cara yang
tidak pantas dan kelewatan. Bagaimana pendidikan kita maju kalau masih
saja perilaku-perilaku seperti ini tetap ada di diri masyakarakatnya?
Tapi,
jangan salah.Orang berpendidikan tidak akan menjamin perilakunya.
Orang-orang berpendidikan pun kini silih berganti menghianati negaranya
sendiri, bagaimana tidak? Koruptor di negeri kita sebagian besar
merupakan orang-orang berpendidikan formal. Mereka ramai-ramai korupsi
demi memperkaya diri sendiri. Rasanya sulit mencari pemimpin yang jujur
dan adil di negeri ini.
Dan
polemik yang sedang hangat-hangatnya saat ini, pembangunan gedung super
mewah anggota DPR menuai pro-kontra dari masyarakat. Rencananya DPR
akan membangun gedung mewah tersebut dengan biaya 1,1 Triliun yang kini
dipangkas menjadi Rp 777 Milyar
Tentu
saja rencana ini banyak yang menolak. Bagaimana tidak? Saat 31 juta
rakyat miskin Indonesia membutuhkan bantuan wakil rakyat ini, justru
anggota DPR ramai-ramai membangun gedung super mewah tersebut.
Boleh-boleh lah membangun gedung, kenapa harus se-fantastis seperti itu
biayanya? Ini kah simbol kebangkitan nasional??
Itulah segelintir problema negeri ini, masih ada ribuan problema lain yang tentu tidak dapat disebutkan satu per satu.
Namun,
jangan berpikir negeri kita hanya ada yang negatif-negatif saja.
Tentunya ada juga yang peduli dengan bangsanya sendiri. Pelajar pun
tidak hanya bisa tawuran, pelajar Indonesia pun bisa mendunia. Jangan
Salah?
Inilah
segelintir orang yang mampu benar-benar mengimplementasikan makna
kebangkitan nasional kita. Jangan mau kalah, Indonesia harus
benar-benar bangkit. Jangan hanya merayakannya secara mewah-mewah,
maknai nilai-nilainya, bukan tidak mungkin negeri ini akan benar-benar
bangkit menjadi negeri yang aman, damai, sejahtera.

















