Jumat, 20 Mei 2011

103 Tahun Kebangkitan Nasional, Kenapa Masih Tertatih-tatih?

Semakin tua umur suatu negara, maka semakin maju negara tersebut. Namun, kalimat tersebut rasanya belum cocok dengan negara Indonesia ini. Di umurnya yang ke 103 tahun pasca kebangkitan nasional, serta menjelang 66 tahun kemerdekaan, negeri ini seolah berjalan mundur.

103 tahun lalu, tepatnya hari Minggu, 20 Mei 1908 (kini ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional) Soetomo dan kawan-kawannya: M. Soeradji, M. Muhammad saleh, M. Soewarno, M. Goenawan, Soewarno mendirikan sebuah perkumpulan yang mereka namakan "Boedi Oetomo", yang terdiri dari kata "Boedi" yang berarti baik, dan "Oetomo" yang berari utama, luhur. 

Cita-cita mereka tidak main-main.Kemajuan untuk bangsa dan negara, terutama memajukan pendidikan, pertanian, dan industri. Boedi Oetomo telah memberikan kesaran nasional, menggugah semangat persatuan, adalah suatu kenyataan yang perlu diteladani.

Bagaimana Keadaan Indonesia Setelah 103 Tahun Kebangkitan Nasional??

103 tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi negara ini justru bisa diibaratkan berjalan mundur, tidak mengikuti perkembangan jaman. Berbagai problema masyarakat seolah menunjukkan betapa masyarakat belum memahami arti penting momentum kebangkitan nasional. Masyarakat seolah semakin tidak berkarakter, semakin terjajah oleh penyakit moral yang tak kunjung usai.Lebih-lebih generasi muda harapan Indonesia di masa depan, mereka justru dapat dikatakan merusak bangsanya sendiri dengan perilaku-perilaku negatif mereka. 


Tawuran seolah sudah jadi pemberitaan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mereka lah harapan bangsa di masa depan, calon pemimpin di masa depan, tapi mereka saling serang satu sama lain, mau menangnya sendiri


Terlihat betapa pendidikan yang sudah digembleng selama 3 tahun seperti tak ada hasilnya. Siswa-siswa ini merayakan kelulusan mereka dengan cara yang tidak pantas dan kelewatan. Bagaimana pendidikan kita maju kalau masih saja perilaku-perilaku seperti ini tetap ada di diri masyakarakatnya?

Tapi, jangan salah.Orang berpendidikan tidak akan menjamin perilakunya. Orang-orang berpendidikan pun kini silih berganti menghianati negaranya sendiri, bagaimana tidak? Koruptor di negeri kita sebagian besar merupakan orang-orang berpendidikan formal. Mereka ramai-ramai korupsi demi memperkaya diri sendiri. Rasanya sulit mencari pemimpin yang jujur dan adil di negeri ini.

Dan polemik yang sedang hangat-hangatnya saat ini, pembangunan gedung super mewah anggota DPR menuai pro-kontra dari masyarakat. Rencananya DPR akan membangun gedung mewah tersebut dengan biaya 1,1 Triliun yang kini dipangkas menjadi Rp 777 Milyar


Tentu saja rencana ini banyak yang menolak. Bagaimana tidak? Saat 31 juta rakyat miskin Indonesia membutuhkan bantuan wakil rakyat ini, justru anggota DPR ramai-ramai membangun gedung super mewah tersebut. Boleh-boleh lah membangun gedung, kenapa harus se-fantastis seperti itu biayanya? Ini kah simbol kebangkitan nasional??

Itulah segelintir problema negeri ini, masih ada ribuan problema lain yang tentu tidak dapat disebutkan satu per satu.

Namun, jangan berpikir negeri kita hanya ada yang negatif-negatif saja. Tentunya ada juga yang peduli dengan bangsanya sendiri. Pelajar pun tidak hanya bisa tawuran, pelajar Indonesia pun bisa mendunia. Jangan Salah?


Inilah segelintir orang yang mampu benar-benar mengimplementasikan makna kebangkitan nasional kita. Jangan mau kalah, Indonesia harus benar-benar bangkit. Jangan hanya merayakannya secara mewah-mewah, maknai nilai-nilainya, bukan tidak mungkin negeri ini akan benar-benar bangkit menjadi negeri yang aman, damai, sejahtera.
 

Photobucket
Free Counter
Photobucket