Beberapa hari terakhir ini, di Palembang sempat beredar pesan singkat
di Ponsel (telepon seluler) milik warga berisikan ancaman penyebaran
HIV melalui tusuk gigi. Bahkan, jaringan ini terus menyebarkan misi
bahaya ini sesama komunitas penderita di grup khusus melalui Blackberry
Massenger (BBM). Jika benar ada, ini menjadi ancaman serius dan
masyarakat.
Informasi sripo (grup Tribunnews.com) di lingkungan dokter di RSMH Palembang, Jumat (24/6/2011) membenarkan adanya berita tersebut, maka mereka juga sedang melakukan penelitian dan mencoba masuk ke dalam grup BBM melalui jaringan Jakarta dan dokter yang bertugas di RSCM Jakarta.
Informasi sripo (grup Tribunnews.com) di lingkungan dokter di RSMH Palembang, Jumat (24/6/2011) membenarkan adanya berita tersebut, maka mereka juga sedang melakukan penelitian dan mencoba masuk ke dalam grup BBM melalui jaringan Jakarta dan dokter yang bertugas di RSCM Jakarta.
SMS itu antara lain berbunyi, “Mereka berniat menyebarkan penyakit
ini dengan media tusuk gigi yang banyak terdapat di restoran dan rumah
makan. Memakai tusuk gigi tersebut hanya untuk melukai gusinya supaya
berdarah lalu diusap hingga tidak kelihatan darahnya, kemudian tusuk
gigi yang sudah tercemar tersebut dikembalikan ke tempatnya,”
Informasi lain juga menyebutkan, indikasi ini bermula ada seorang PSK
yang tidak terima dirinya dikucilkan dari masyarakat karena mengidap
penyakit HIV. Kemudian, ia ingin juga orang lain merasakan betapa
sakitnya dikucilkan masyarakat. Lantas, membeli tusuk gigi dari toko,
yang kemudian direndam dengan darahnya sampai meresap, kemudian dicuci
lalu dijemur sampai kering.
Setelah itu, ketika ia makan di restoran, lalu tusuk gigi yang ada di
meja restoran itu, ia tukar dengan harapan orang lain bisa tertular HIV
melalui tusuk gigi. Juga ada informasi lain penyebaran ini gara-gara
ada seorang penderita.
Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Palembang H Zailani UD, SIP sebelumnya mengakui adanya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Palembang. Bahkan di akhir Juni 2011 ini saja, ditemukan 27 orang terinfeksi. Sedangkan di 2010 lalu ada 50 orang, dengan total penderita di Palembang sebanyak 540 orang. “Jumlahnya diperkirakan lebih banyak, karena mereka tidak terpantau,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Palembang H Zailani UD, SIP sebelumnya mengakui adanya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Palembang. Bahkan di akhir Juni 2011 ini saja, ditemukan 27 orang terinfeksi. Sedangkan di 2010 lalu ada 50 orang, dengan total penderita di Palembang sebanyak 540 orang. “Jumlahnya diperkirakan lebih banyak, karena mereka tidak terpantau,” katanya.
Soal edukasi yang dilakukan KPA terhadap penderita, Zailani
mengatakan, berdasarkan aturan internasional identitas penderita tidak
boleh dipublikasikan. Namun mereka diimbau untuk tidak menyebarkan virus
itu kepada orang lain, khususnya bagi penderita yang berprofesi sebagai
PSK dan pengguna Narkoba melalui jarum suntik.
Dikatakan, sejauh ini penularan HIV/AIDS hanya bisa terjadi karena
hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
Penggunaan jarum suntik, tindik, tato yang dapat menimbulkan luka yang
tidak disterilkan secara bersama-sama dan sebelumnya telah dipakai oleh
orang yang terinfeksi HIV. Melalui transfusi darah yang tercemar HIV.
Dan ibu hamil yang tercemar HIV pada anak yang dikandungnya. Sementara
beberapa pendekatan yang dilakukan terhadap komunitas Orang Hidup Dengan
AIDS (ODHA) yang ada di Palembang, umumnya penderita tidak banyak
bicara dan memilih tutup mulut. (Sumber)