Kamis, 29 September 2011

Kontroversi Kebenaran sejarah dan tragedi G 30 S / PKI

 
Masih segar dalam ingatan  kita semua akan keganasan PKI, walau kita semua tidak bisa menyaksikan secara langsung tragedi berdarah tersebut setidaknya kita bisa menyaksikan dalam sebuah film PENGKHIANATAN G 30 S/PKI, ternyata nilai kebenaran sejarah tragedi september berdarah tersebut masih dipertanyakan, mengapa demikian ini semua tidak lepas dari kepentingan politik dan permainan para antek-antek PKI yang masih dengan gagahnya berkeliaran di Republik kita yang tercinta in, di satu sisi kita diperlihatkan akan keberania TNI yang dalam hal ini yang lebih di tonjolkan adalah (alm) Soeharto, dimana beliau adalah tokoh sentral yang menjadi ikon keberanian aparat dalam menumpas bentuk kejahatan PKI,  berikut ini ada beberapa petikan tulisan yang saya copas dari website yahooco.id dan hidayatullah.com, jika kita perhatikan dan lalu kita bandingkan ternyata kedua tulisan tersebut saling bertolak belakang di satu sisi terkesan mendukung kebenaran sejarah tragedi PENGKHIANATAN G 30 S/PKI, dan disatu sisi kebenaran sejarah tragedi PENGKHIANATAN G 30 S/PKI itu masih menjadi pertanyaan, bukan tanpa alasan atau argument tapi hal tersebut dikuatkan dengan data-data sejarah.  berikut kutipannya.

Apa Kabar Film ‘PENGKHIANATAN G 30 S’?

film penghianatan G 30 S PKI Ketika Soeharto masih menjadi Presiden Republik Indonesia, film PENGKHIANATAN G 30 S/PKI adalah sebuah film wajib putar di semua stasiun TV tanah air setiap tanggal 30 September. Film ini sendiri adalah versi resmi pemerintah Orde Baru yang mengisahkan tentang peristiwa yang terjadi pada malam 30 September dan pagi 1 Oktober 1965 di Jakarta.
Pada malam dan pagi hari itu, terjadi pergolakan politik di Indonesia yang kemudian berujung pada pergantian rezim pemerintahan, dari Soekarno ke Soeharto.
Film yang dibesut oleh Arifin C Noer itu dibintangi oleh beberapa artis terkenal kala itu. Sebut saja Ade Irawan, Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Sofia WD. Dan film yang diproduksi tahun 1984 itu digolongkan dalam film berdurasi panjang dengan total waktu 220 menit dan dilatarbelakangi musik besutan Embie C Noer.
Sejak film itu diproduksi, Soeharto memerintahkan agar film berjudul lengkap PENGKHIANATAN G 30 S/PKI itu diputar setiap tanggal 30 September malam sebagai penghormatan pada tujuh jenderal besar yang tewas saat itu. Dan saat akhirnya Soeharto lengser tahun 1998, film itupun tak pernah lagi diputar di televisi Indonesia.
Dan memang hingga saat ini, PENGKHIANATAN G 30 S/PKI tak pernah lagi terlihat diputar di televisi tanah air. Namun, kita masih bisa menemukannya di YouTube saat search dengan kata kunci ‘pengkhianatan g 30 s/pki.’
Meski begitu, film ini rupanya memberikan kesan yang begitu mendalam bagi yang pernah menontonnya. Selain karena suasana film yang begitu tegang, score musik yang mencekam, dan kepiawaian sang sutradara mengarahkan para pemain untuk menunjukkan ketegasan, kesedihan, kemarahan, dan kesadisan yang digambarkan di situ.
“Yang berasa serem dr film G30S/PKI itu scoring-nya… Msh kebayang2 smp skrg. Yg tak terlupakan dr film G30S/PKI: scoring, suara burung p’tanda kematian, “Papiiii…”, close-up bibir hitam, “Darah itu merah, Jenderal.” tulis Dewi Lestari yang rupanya juga mengingat film ini dalam akun Twitter miliknya, Kamis (30/09).
Lalu, masih ingatkah Anda akan film ini? (kpl/npy)

1 Oktober Hari Duka Nasional, Bukan Hari Kesaktian Pancasila

Pengamat Komunisme,  Kol (Purn) H. Firos Fauzan  menilai 1 Oktober sebagai hari “pengkhianatan” Pancasila
Hidayatullah.com– Masyarakat Indonesia diminta tak terpedaya dengan sejarah, termasuk sejarah istilah Gerakan 30 September karena peristiwa sebenarnya  terjadi pada 1 Oktober 1965.
Pernyataan ini disampaikan pemerhati sejarah dan anggota Gerakan Nasional Patriot Indonesia,  Kol (Purn) H. Firos Fauzan  kepada hidayatullah.com, Kamis (30/9) di sela-sela konferensi pers MUI di Jakarta.
Menurutnya, penyebutan peristiwa coup PKI sebagai G-30-S merupakan “jebakan” dan penggelapan sejarah yang sebenarnya, karena dari beberapa pengakuan saksi sejarah peristiwa tersebut terjadi pada 1 Oktober 1965.
“Istilah G-30-S itu permainan dialektika Komunis untuk memanipulasi kebenaran sejarah, Pak Nasution di bukunya mengatakan peristiwa tersebut jam 4.00 wib dini hari 1 Oktober 1965, begitu juga Bung Karno menamai dengan Gestok,” ungkap Firos.
Menurut Firos Fauzan, dengan menggunakan istilah G-30-S masyarakat hanya akan mengingat peristiwa  penculikan jenderal dan gerakan militer di Jakarta, sehingga tidak menganggap peristiwa itu sebagai Kudeta yang dilakukan oleh PKI, sebagaimana  Partai Palu Arit tersebut melakukan coup dengan menculik para jenderal dan aksi di daerah-daerah dengan Dewan Revolusi-nya.
Ia juga mengatakan, 1 Oktober seharusnya diperingati sebagai “Hari Duka Nasional”, bukan sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”, karena pada 1 Oktober 1965 massa aksi masih melakukan penuntutan pembubaran terhadap PKI.
“1 Oktober itu pengkhianatan Pancasila, bukan kesaktian Pancasila. Apa kita mau ikut-ikutan China yang merayakan 1 Oktober sebagai Hari Kemenangan? hati-hati, ini permainan dialektika manipulasi sejarah,” paparnya.
“Kan kita tahu tanggal 1 Oktober ’65 PKI belum bubar, bahkan sampai 1 Januari 1966 Tritura masih menuntut pembubaran PKI. Pada saat itu Pancasila tidak mampu membubarkan PKI,” tambahnya.
Menurutnya kembali, Komunis sangat senang bermain dialektika sejarah, sehingga menempatkan tema peristiwa berbeda dengan konteks peristiwa sebenarnya yang akan menyebabkan kekaburan sejarah.
“Mereka (Komunis, red) memang senang main thesa-antithesa. Kalau temanya tidak sesuai dengan peristiwa sejarah sebenarnya, nanti bisa timbul keraguan bagi generasi selanjutnya yang tidak tahu sejarah sebenarnya. Itu yang diharapkan mereka,” tegas Firos yang juga merupakan pengamat Komunisme ini.
Lebih jauh, ia mengatakan,  jika bangsa Indonesia menyebut 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” dengan menaikkan bendera satu tiang penuh, itu sama saja Indonesia telah berkiblat ke RRC yang merayakan 1 Oktober sebagai “Hari Kemenangan Revolusi Rakyat.”
“Ini memang ada kesengajaan sistematis, “ ujarnya menutup pembicaraan.

Reaksi: